Pontjo Sutowo dan Kegelisahan Sebuah Bangsa

75 Tahun di Mata Para Sahabat

Bagi banyak orang, angka 75 adalah garis finis untuk beristirahat. Namun, bagi Pontjo Sutowo, angka ini tampak seperti sebuah puncak bukit yang baru; tempat ia berdiri memandang jauh ke depan, bukan untuk menghitung aset yang terkumpul, melainkan untuk memastikan “benih kebangsaan” yang ia semai telah berakar dengan kuat.

“Saya tidak tahu sampai kapan saya akan hidup dan saya ingat pesan orang tua saya… kamu sudah diberikan kemuliaan oleh Tuhan maka kamu mempunyai tanggungjawab yang besar terhadap orang lain. Pantang kamu berpangku tangan kalau ada orang lain yang susah. Saya ingin kalau nanti saya sudah meninggal, dari atas sana saya bisa melihat… ooo… ini peninggalan saya, ooo… ini kontribusi saya. Di antara teman-teman, dimanapun berada, saya ingin bermanfaat. Jika tidak berguna, untuk apa?,” ia bertutur kepada Biografer.

Memaknai 75 tahun perjalanan hidup beliau melalui kacamata para sahabat, kita menemukan sebuah narasi tentang seorang pengusaha yang menolak terpenjara dalam kotak pragmatisme bisnis.

Banyak yang mengenal beliau sebagai industrialis  namun di buku Pontjo Sutowo 75 Tahun – Penebar Benih Kebangsaan terbitan Kompas Penerbit Buku tahun 2025 – menandai hari ulang tahunnya – sosoknya lebih dekat dengan figur pemikir. Sebagaimana digambarkan oleh cendekiawan Yudi Latif:

Pak Pontjo adalah pemikir yang orisinal, meski tak pandai menggelorakan pemikirannya di atas mimbar. Ia perenung sejati yang mampu mengeluarkan kecermelangan gagasannya dalam percakapan yang tenang dan perjumpaan yang intim.”

Buku Pontjo Sutowo 75 Tahun – Penebar Benih Kebangsaan

Di usia 75, perannya  sebagai “jembatan” antar-generasi dan antar-golongan semakin krusial. Melalui wadah Aliansi Kebangsaan, ia merajut dialog dengan berbagai kalangan. Tokoh politik seperti Bambang Soesatyo menyoroti bagaimana Pontjo konsisten menjaga marwah Pancasila:

“Di tengah gelombang globalisasi yang kerap menggoyang identittas nasional, Pontjo menjadi salah satu penjaga garis ideologi negara.Ia melihat pembangunan fisik tidak akan berarti jika fondasi ideologi bangsa keropos.Maka ia aktif menyuarakan pentingnya pemahaman mendalam tentang Pancasila, bukan hanya sebagai ideologi negara tetapi sebagai panduan hidup berbangsa yang harus ditanamkan sejak dini”

Melalui buku Penebar Benih Kebangsaan, kita melihat bahwa warisan terbesar Pontjo di angka 75 bukanlah deretan gedung pencakar langit, melainkan investasi pemikiran. Ia tidak mewariskan tumpukan uang bagi bangsa ini, melainkan tumpukan gagasan tentang bagaimana Indonesia bisa mandiri secara teknologi dan berdaulat secara martabat.

KOMPAS Penerbit Buku menulis ”keterlibatannya menyentuh bidang-bidang strategis yang menyusun tulang punggung keberlanjutan bangsa: agama dan spritualitas, pendidikan dan kebudayaan, perekenominan dan dunia usaha,teknologi dan inovasi, kebangsaan dan bela negara hingga demokrasi politik dan kedaulatan nasional.Ia menjadikan dunia sebagai ruang belajar dan bangsa sebagai ladang pengabdian

Usia 75 tahun juga menjadi saksi ketangguhan mentalnya. Menghadapi berbagai ujian hukum terkait sengketa atas lahan Hotel Sultan dengan pemerintah (Kementerian Sekretariat Negara) di masa senja bukanlah hal mudah. Namun ia menghadapi persoalan hukum seperti ia menghadapi kehidupan: dengan kepala tegak, prosedur yang benar, dan menaruh hormat pada institusi negara.

Tujuh puluh lima tahun bagi Pontjo Sutowo adalah sebuah perayaan atas konsistensi. “Ia tetap menjadi orang yang sama, rendah hati, mau mendengarkan, selalu berbagi dan menolong,”  ujar Ansel da Lopez, mantan wartawan Kompas, teman dekat Pontjo  yang juga menulis biofrafi Pontjo Sutowo: Pengusaha Yang Terpanggil.

Pontjo mengingatkan kita semua bahwa menjadi pengusaha sukses itu biasa, namun menjadi pengusaha yang mencintai bangsanya dengan cara yang intelektual dan bermartabat adalah sesuatu yang langka. 75 hanyalah angka, namun “Benih Kebangsaan” yang ia tebar adalah untuk selamanya.***

Albert Rebong

Halaman: 1 2 3 4 5 6