Visi KeIndonesiaan
Pontjo juga membaca perubahan zaman. Media hari ini bukan lagi cetak—melainkan digital, dengan pengaruh luar biasa. Namun, ia melihat masalah besar: masyarakat tidak mampu membedakan fakta dan hoaks. Media kehilangan keberanian karena tekanan ekonomi.
“Dulu dibredel, sekarang tidak dapat iklan.”
Akibatnya, ruang publik kehilangan peran sebagai pembentuk kesadaran kritis. Padahal, dalam sejarah kemerdekaan, media adalah alat perubahan mindset bangsa. Media adalah alat perjuangan kemerdekaan, bahkan dalam arti kata yang sesungguhnya. Sekarang bagaimana?
“ Ya… kita kebablasan,” kata Pontjo meniru jawaban Yacob Oetama pendiri Kompas, suatu waktu.
Pada akhirnya, semua persoalan kembali ke satu titik: mentalitas. Pontjo berulang kali menegaskan bahwa: rakyat tidak berani melawan ketidakadilan, masyarakat tidak berpikir merdeka dan elite tidak merasa bertanggung jawab.
“Kalau tidak berani berdiri, jangan harap ada perubahan.”

Di usia senjanya, Pontjo tidak berbicara tentang kekayaan, melainkan warisan. Ia ingin meninggalkan sesuatu yang bisa “terlihat” setelah ia tiada—bukan uang, tetapi jejak manfaat.
“Di mana pun saya berada, saya harus memberi manfaat.”
Namun ia juga menyimpan kekhawatiran: negara bisa runtuh, pesimisme semakin besar. Daya imajinasi bangsa melemah.
“Negara tidak akan hidup selamanya.”
Meski demikian, ia menolak menyerah. Di tengah kritik tajamnya, Pontjo tetap optimis. Indonesia memiliki semua bahan untuk menjadi bangsa besar: kekayaan alam, keragaman, budaya, jumlah penduduk, sejarah peradaban.
“Yang kurang hanya dua hal. Pikiran yang benar dan pemimpin yang benar.”
Jika dua hal itu terpenuhi, ia yakin Indonesia bisa menjadi kekuatan besar dunia.
Pada akhirnya, seluruh pemikiran Pontjo bermuara pada satu gagasan: menanam benih kebangsaan. Ia sadar, hasilnya belum tentu terlihat dalam hidupnya. Namun tidak menanam berarti pasti gagal memberi manfaat.
Di situlah letak makna terdalam dari seluruh percakapan ini: sebuah panggilan untuk bertindak, bukan sekadar memahami. Sebab bagi Pontjo Sutowo, Indonesia tidak kekurangan sumber daya—Indonesia hanya kekurangan visi untuk menjadi diri sendiri. ***







