Mother Teresa, Ibu Segala Umat (Part 2)

Malam dalam Jiwa Seorang Santa

Ketika dunia mulai mengenal Mother Teresa sebagai “santa dari jalanan Kolkata”, ada kenyataan besar yang nyaris tidak diketahui siapa pun. Semakin terang dirinya di mata dunia, semakin gelap pergulatan batin yang ia alami. Orang-orang melihat senyumnya, sari putih bergaris biru yang dikenakannya, tangan tuanya yang menyentuh orang sakit, hingga penghargaan Nobel Perdamaian yang diterimanya. Dunia melihat para pemimpin besar menundukkan kepala di hadapannya. Namun hampir tidak ada yang mengetahui malam panjang yang hidup dalam jiwanya.

Buku Mother Teresa: Come Be My Light

Rahasia itu baru terbuka bertahun-tahun setelah kematiannya ketika surat-surat pribadinya dipublikasikan dalam buku Mother Teresa: Come Be My Light. Dunia terkejut mengetahui bahwa di balik sosok yang dianggap sangat dekat dengan Tuhan, tersembunyi seorang perempuan yang selama puluhan tahun merasa Tuhan begitu jauh darinya. Dalam salah satu suratnya, ia menulis,

“There is such terrible darkness within me.”

Dalam surat lain ia berkata,

“I feel just that terrible pain of loss—of God not wanting me.”

Kata-kata itu mengguncang banyak orang karena selama ini banyak yang membayangkan orang suci hidup dalam kedamaian rohani tanpa keraguan. Namun Mother Teresa memperlihatkan kenyataan yang jauh lebih rumit: kasih tidak selalu lahir dari perasaan penuh cahaya. Kadang kasih justru lahir dari kesetiaan untuk tetap hadir di tengah kekosongan.

Di situlah kekuatan moral hidupnya terasa begitu besar. Ia tetap memeluk orang sakit meskipun jiwanya sendiri diliputi kesunyian. Surat-suratnya meruntuhkan ilusi modern tentang kekuatan. Dunia hari ini begitu terobsesi pada citra keteguhan: pemimpin harus tampak yakin, tokoh agama harus terlihat damai, orang sukses tidak boleh tampak rapuh. Kelemahan dianggap kegagalan, kesepian dianggap aib, dan keraguan dipandang sebagai ancaman. Namun Mother Teresa memperlihatkan bahwa bahkan manusia yang menjadi sumber harapan bagi jutaan orang pun dapat mengalami kehampaan yang mendalam. Justru karena itulah hidupnya terasa sangat manusiawi. Ia bukan patung tanpa luka, melainkan manusia yang terus memilih mencintai bahkan ketika dirinya sendiri berjalan dalam gelap.

Ironi terbesar hidup Mother Teresa mungkin adalah ini: ia dikelilingi jutaan orang, tetapi hidup dengan kesunyian yang sangat dalam. Dunia memujanya, tetapi sedikit yang benar-benar memahami bebannya. Ia menjadi simbol global belas kasih, namun tetap harus bangun setiap hari dan menghadapi tubuh-tubuh sakit, anak-anak terlantar, dan kematian yang tak pernah berhenti datang.

Sementara dunia menjadikannya ikon moral, ia tetap seorang perempuan tua kecil yang berjalan dari ranjang ke ranjang orang sekarat. Mungkin di situlah letak tragedi sekaligus keindahan hidupnya: ia tidak pernah benar-benar keluar dari penderitaan manusia.

Halaman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *