Orang Suci dan Dunia yang Masih Sama
Pada 2016, Vatikan secara resmi menetapkan Mother Teresa sebagai santa. Dunia Katolik bersukacita. Namanya kini menjadi bagian resmi dari sejarah gereja. Namun pertanyaan terbesar sebenarnya bukan apakah Mother Teresa pantas disebut orang suci. Pertanyaan terbesar adalah apakah dunia sungguh mendengar pesan hidupnya.

Sebab bahkan setelah kematiannya, dunia tetap penuh paradoks. Teknologi berkembang semakin cepat. Kekayaan global meningkat. Gedung-gedung makin tinggi. Pasar makin luas. Namun jutaan manusia tetap hidup tanpa martabat.
Anak-anak masih tidur lapar. Pengungsi terus berjalan tanpa rumah. Orang tua mati dalam kesepian. Orang sakit ditolak karena tak mampu membayar. Orang miskin tetap dianggap gagal oleh sistem yang sejak awal tidak pernah memberi mereka kesempatan yang sama.Dan di banyak tempat, agama tetap lebih sibuk mempertahankan institusi daripada keluar menyentuh luka manusia.
Pada akhirnya, seluruh hidup Mother Teresa mungkin dapat diringkas kembali pada satu gambaran sederhana dari masa kecilnya di Skopje: kursi kosong di meja makan ibunya. Kursi bagi orang asing. Bagi orang lapar. Bagi mereka yang tidak memiliki tempat. Kursi itu menjadi simbol seluruh hidupnya.
Dan pertanyaan terbesar bagi dunia hari ini mungkin bukan tentang apakah Mother Teresa seorang santa. Pertanyaan terbesar adalah apakah kita masih menyediakan kursi kosong bagi sesama manusia.
Peradaban tidak diukur dari seberapa besar gedung yang dibangunnya. Peradaban diukur dari apakah orang yang paling lemah masih memiliki tempat di hati manusia.Dan selama dunia masih dipenuhi kesombongan, ketimpangan, dan manusia-manusia lemah yang terpinggirkan, suara kecil perempuan bersari putih biru dari Kolkata itu akan terus bergema melintasi zaman:
“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.”
The Editors








