Mengubah Arah
Setelah hampir sepuluh tahun berkarya di bidang engineering, Freddy mulai mempertanyakan masa depannya. Apakah ia akan terus menjadi seorang insinyur sampai pensiun? Pertanyaan itu muncul setelah ia membaca pengumuman penerimaan mahasiswa Magister Manajemen Universitas Indonesia di Harian Kompas pada akhir 1993.
Saat itu, posisinya di Duri sedang menjanjikan. Kariernya berada dalam jalur promosi, sementara pengalaman penugasan di Amerika Serikat baru saja memperkaya kompetensi teknisnya. Namun, ia merasa ada cakrawala lain yang perlu dijelajahi. Ia kemudian memperjuangkan kesempatan pindah ke kantor pusat CPI di Jakarta sekaligus mengikuti pendidikan Magister Manajemen UI.
Dua tahun kemudian, kesempatan itu datang. Ia dipinjamkan ke Caltex Services Pte. Ltd. Indonesia Representative Office, unit bisnis hilir Caltex yang saat itu hanya memiliki lima pegawai. Dari perusahaan dengan ribuan karyawan, ia berpindah ke organisasi kecil yang memberinya ruang untuk belajar pemasaran, pengembangan bisnis, pelumas industri, terminal aspal, hingga pengembangan fasilitas pencampuran pelumas.
Di sinilah Freddy menunjukkan satu kualitas penting: ia tidak mengukur kesempatan berdasarkan besar kecilnya organisasi, tetapi berdasarkan ruang pembelajaran yang tersedia.
Dan setelah dua puluh tahun berkarya di Caltex, Freddy menghadapi keputusan yang jauh lebih berat. Pada akhir 2003, CPI menawarkan Voluntary Resignation Package (VRP), program pengunduran diri sukarela dengan kompensasi menarik bagi karyawan berbagai tingkatan.
Saat itu ia sudah memiliki posisi yang baik, hubungan kerja yang kuat, serta kehidupan keluarga yang relatif terjamin. Caltex bukan sekadar tempat bekerja. Perusahaan itu telah menjadi rumah kedua. Di sana tersedia pendapatan tetap, fasilitas kesehatan, kendaraan, rumah, rekreasi, dan jaminan kehidupan keluarga.
Namun, ia mulai menyadari bahwa kenyamanan dapat menjadi perangkap ketika seseorang kehilangan keberanian untuk menjelajahi kemungkinan lain.
Pada Senin, 5 Januari 2004, Freddy datang ke bagian sumber daya manusia dengan membawa dua formulir: satu menyatakan tetap bekerja, satu lagi memilih mengundurkan diri. Ia sempat menunjukkan formulir untuk tetap bekerja. Namun, kemudian ia merobeknya dan menyerahkan formulir pengunduran diri sukarela.
Pada 25 Maret 2004, setelah bekerja selama 20 tahun, tiga bulan, dan enam hari, ia meninggalkan Caltex. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Bahkan, ketika meninggalkan perusahaan, belum ada kepastian pekerjaan baru. Namun, dua minggu kemudian, ia memperoleh kesempatan bergabung dengan Pacific Oil & Gas Indonesia (PO&GI) sebagai Corporate Communications Manager – profesi komunikasi yang dahulu dianggap sebagai kelemahannya.

Kompetensi Saja Tidak Cukup
Perjalanan di PO&GI memberinya pengalaman baru dalam komunikasi korporat, pengelolaan reputasi, hubungan dengan media, dan keterlibatan dengan berbagai pemangku kepentingan. Ia juga mulai mempelajari bahasa Mandarin dan budaya China.
Namun, pada akhir 2009, perjalanan itu kembali mengalami guncangan. PO&GI melakukan pengurangan tenaga kerja akibat tidak berlanjutnya proyek ambisius LNG Train Satu. Freddy termasuk di antara karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja.
Kabar itu datang hanya dua minggu menjelang Natal. Bagi seseorang yang pernah meninggalkan perusahaan mapan dengan keputusan sendiri, kehilangan pekerjaan karena keputusan perusahaan tentu menghadirkan pengalaman emosional yang berbeda.
Tetapi kali ini Freddy tidak lagi menghadapi ketidakpastian dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Ia telah memiliki pengalaman, jaringan profesional, dan kemampuan beradaptasi yang lebih matang. Salah satu sahabatnya, Swastioko Budhi Suryanto, pendiri Milis Migas Indonesia dan Ketua Umum Komunitas Migas Indonesia, kemudian membuka jalan baru.
Budhi merekomendasikan Freddy untuk mengisi posisi Manager Corporate Communications di Inpex Corporation. Bahkan, ketika proses rekrutmen hampir ditutup, Budhi meminta agar posisi tersebut tidak segera ditutup karena ia mempunyai kandidat yang layak dipertimbangkan. Rekomendasi itu menjadi pintu masuk Freddy ke Inpex pada Februari 2010.

Di balik kisah tersebut terdapat pelajaran penting: karier tidak hanya dibangun melalui kompetensi, tetapi juga melalui kepercayaan dan hubungan baik dengan sesama manusia.
Jaringan profesional yang dibangun dengan integritas ternyata dapat menjadi penopang ketika seseorang menghadapi masa sulit.
Saat bekerja di Inpex, Freddy mendapat tanggung jawab dalam komunikasi dan hubungan pemangku kepentingan untuk pengembangan Proyek LNG Abadi di Blok Masela, Maluku. Namun, ada satu hal lain yang menarik dari periode ini.
Di tengah kesibukan profesional, ia kembali menjadi mahasiswa, kali ini menempuh pendidikan Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Sahid. Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa baginya pendidikan bukan sekadar jalan memperoleh gelar, melainkan cara memahami lebih dalam pekerjaan yang sedang dijalani.
Perjalanan doktoralnya tidak mudah. Ia memilih topik disertasi tentang reproduksi wacana koruptif, dengan pendekatan paradigma kritis, teori strukturasi Anthony Giddens, dan analisis wacana kritis Norman Fairclough. Penelitiannya mengharuskannya menemui sejumlah narasumber yang ketika itu sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung.
Dengan dukungan keluarga, teman, dan para dosen, Freddy akhirnya menyelesaikan studi doktoralnya pada 2018 dengan IPK 3,88 dan predikat Cum Laude pada awal Oktober 2018, satu bulan sebelum kelahiran cucu pertamanya.









