Tidak semua orang berani meninggalkan kemapanan ketika sedang berada di puncak karier. Tidak semua orang mampu bangkit setelah kehilangan pekerjaan. Dan tidak semua orang memahami bahwa pensiun bisa menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih bermakna.
Alfred Pieter Menayang, Insinyur Teknik Sipil jebolan Institut Teknologi Bandung yang kemudian menyandang gelar Magister Manajemen dari Universitas Indonesia dan Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Sahid Jakarta seperti menguji batasnya sendiri menghadapi ketidakpastian hidup. Dalam batas tertentu, ia tidak hanya keluar tetapi menguji zona nyaman yang sudah ia punyai.
Pada usia 68 tahun, lelaki Menado yang akrab dipanggil Freddy oleh lingkaran teman-temannya – setelah sepuluh tahun menjalani kehidupan pascapensiun – masih menikmati kesibukannya mengajar mahasiswa pascasarjana, menjadi asesor kompetensi, aktif dalam organisasi profesional, bekerja sebagai konsultan dekarbonisasi, dan membangun climate-tech start-up melalui melalui platform nearzer0.com.
Baginya, pensiun bukanlah akhir dari hidup yang produktif. Ia merupakan kesempatan untuk memanen pengalaman, mengembangkan potensi, dan membagikan pengetahuan yang telah dikumpulkan selama perjalanan panjang.
Kisah Freddy bukan kisah sukses bertabur bunga sepanjang jalan. Sejatinya, ia adalah perjalanan seseorang yang berani menghadapi ketidakpastian untuk menemukan kemungkinan kehidupan yang lebih luas. Karena ia percaya, selalu ada titik balik dalam setiap keputusan yang kita buat- apapun itu.

Memulai Perjalanan Dari Tanah Rantau
Freddy menyelesaikan pendidikan Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung pada Oktober 1983. Sebagai lulusan baru, ia sempat mengikuti proses seleksi di IBM, salah satu perusahaan teknologi paling berpengaruh pada zamannya.
Ia berhasil melewati beberapa tahapan seleksi, tetapi gagal pada wawancara terakhir. Kemampuan komunikasinya ditengarai akan menjadi kelemahan dalam perjalanan profesionalnya. Tetapi hidup seperti punya selera humor sendiri. Beberapa dekade kemudian, komunikasi korporat menjadi menjadi rumah yang lama ia tempati dengan bangga.
Setelah melalui proses rekrutmen di sejumlah perusahaan, Freddy akhirnya memilih Caltex Pacific Indonesia (CPI), meskipun tawaran gajinya lebih rendah dibandingkan perusahaan lain yang sempat menerimanya. Keputusan itu membawanya meninggalkan Jawa dan memulai kehidupan profesional di Rumbai, Riau.
Pada 1985, ia menerima penugasan di Duri, sebuah kawasan yang ketika itu masih terasa terpencil. Di sana ia terlibat dalam pembangunan berbagai fasilitas produksi dan proyek Duri Steamflood, yang saar itu adalah proyek injeksi uap terbesar di dunia. Dari seorang lulusan teknik sipil, ia berkembang menjadi facilities engineer dengan pengalaman di bidang desain, konstruksi, operasi, dan commissioning. Ia bahkan mendapat kesempatan bekerja hampir setahun di Chevron dan Texaco di Amerika Serikat.










