Denny JA dan Mimpi Masa Depan Kita

Masa depan sering datang sebagai sesuatu yang kecil: sebuah buku yang belum selesai dibaca, sebuah pertanyaan yang mengganggu, sebuah percakapan yang membuat seseorang pulang dengan pikiran berbeda.

Semula saya coba mengikuti kiprah Denny untuk memahami ke mana ia melangkah. Lama-kelamaan, yang terasa adalah ke mana langkah-langkahnya membawa pandangan saya. Setiap dunia yang dimasukinya memperbesar pertanyaan tentang masa depan:

Politik membuka persoalan kuasa dan tali temalinya. Puisi memberi makna pada kehadiran orang lain. Spiritualitas memperluas ruang kebersamaan. Dunia energi mengingatkan bahwa seluruh cita-cita manusia  membutuhkan bumi yang sanggup menopangnya.

Lalu saya mulai meragukan keluasan mimpi kita tentang masa depan. Mungkin selama ini kita membayangkan masa depan dengan ukuran yang terlalu kecil: lebih cepat, lebih kaya, lebih berkuasa. Sementara kehidupan meminta kemampuan yang lebih sulit—merasakan akibat keberhasilan kita terhadap orang lain, memberi tempat bagi yang berbeda, dan memikirkan mereka yang akan mewarisi dunia setelah kita.

Pada titik itu, membaca Denny berarti mempertanyakan seberapa jauh kita sendiri berani membayangkan kehidupan. Sebab masa depan juga bergantung pada keluasan impian manusia yang membangunnya.

Ketika Rakyat Perlu Didengar

Masa depan sering datang sebagai sesuatu yang kecil: sebuah buku yang belum selesai dibaca, sebuah pertanyaan yang mengganggu, sebuah percakapan yang membuat seseorang pulang dengan pikiran berbeda.

Perjalanan Denny Januar Ali – konsultan politik tersohor –  mungkin  dapat dibaca dari pintu itu. Lelaki kelahiran Palembang yang kemudian dikenal sebagai Denny JA dengan kekuatan Lingkar Survey Indonesia (LSI)  ini tidak menetap dalam satu ruang pengetahuan. Ia bergerak dari politik, sastra, seni, dan spiritualitas dengan gagasan dan pertanyaan yang terus berganti.

Pada masa mahasiswa, ia memimpin Kelompok Studi Proklamasi. Di tengah Indonesia yang masih berada di bawah tekanan Orde Baru, kelompok studi menyediakan ruang untuk membicarakan masyarakat dan kemungkinan perubahan. Semua dimungkinkan karena kesetiaan kepada literatur.

“Membaca mempunyai akibat. Orang mulai mempertanyakan apa yang sebelumnya diterima begitu saja,” katanya suatu waktu.

Kelak, pendidikan doktoralnya di Ohio State University mempertemukannya dengan disiplin Comparative Politics yang fokus pada perbandingan sistem politik, perilaku politik, institusi, serta dinamika kekuasaan di berbagai negara. Ia kemudian membawa perhatian pada demokrasi ke wilayah penelitian, lalu ikut mengembangkan riset politik kuantitatif sepulang dari Amerika. 

Di sini tampak sebuah gerak yang akan berulang dalam hidupnya: gagasan tidak dibiarkan berhenti sebagai percakapan. Ia mencari bentuk yang dapat bekerja di tengah masyarakat.

Buku Jejak-Jejak Pemilu 2004 merekam Denny sebagai pembawa percakapan politik ke radio. Pemilihan presiden secara langsung menghadirkan kegembiraan sekaligus ketidakpastian. Indonesia sedang belajar menjalankan kebebasan yang baru; orang membutuhkan penjelasan yang dapat dibawa pulang ke kehidupan sehari-hari. 

Demokrasi mengubah pertanyaan. Setelah orang mendapat ruang memilih, bagaimana mengetahui apa yang sungguh mereka inginkan?

Lingkaran Survei Indonesia ((LSI) yang ia dirikan pada 2005, menjadi salah satu wadah profesionalnya untuk membaca opini publik dan mengembangkan konsultasi politik. Masa depan elektoral dicari melalui penelitian terhadap pilihan orang-orang yang hidup hari ini.

Ada sesuatu yang menarik dalam pekerjaan ini. Seorang warga yang tidak pernah naik panggung dapat ikut menentukan arah pembicaraan nasional melalui jawabannya kepada peneliti. Suara kecil memperoleh tempat pada panggung yang besar.

Namun pekerjaannya membaca pilihan publik  dan pekerjaan membantu kandidat untuk  menang menyimpan ketegangan. Pengetahuan dapat menerangkan masyarakat; ia juga dapat digunakan untuk memengaruhi masyarakat. Kritik terhadap keterbukaan metodologis  dan kepentingan selalu menjadi pertanyaan etis yang krusial dalam profesi ini.

Kisah Denny dengan kedigdayaan LSI yang telah membantu kemenangan puluhan gubernur serta bupati/wali kota dan menjadi faktor krusial dalam pemenangan lima pemilihan presiden berturut-turut  tentu tidak perlu menjadikan perjalanan Denny kisah kemenangan tanpa celah. Justru di pertemuan ilmu dan kepentingan itulah perjalanan profesionalnya menjadi menarik:

Dimana batas tanggungjawab itu ketika kemenangan sudah direngkuh?

Pertanyaan tersebut terus tinggal karena setelah hasil diumumkan dan kemenangan dirayakan, kehidupan warga terus berjalan, membawa harapan yang dahulu mereka sampaikan kepada peneliti.

Halaman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *