Angka Berhenti di Depan Luka
Pada 2012, Denny menerbitkan Atas Nama Cinta. Melalui puisi esai, ia membawa persoalan diskriminasi – persoalan (politik) yang menyentuh agama, etnisitas, dan gender karena kegagalan negara melindungi kelompok minoritas – ke dalam kisah, dengan bahasa yang mudah diikuti dan catatan kaki yang menghubungkannya dengan kenyataan sosial.
Perubahan mediumnya terasa penting. Dalam penelitian, manusia masuk sebagai angka. Dalam sastra, ia dapat hadir sebagai seseorang yang kehilangan, mencintai, atau berharap diterima. Pembaca memperoleh kesempatan untuk tinggal lebih lama bersama pengalaman yang biasanya lewat sebagai berita.
Dalam catatan pengantarnya untuk Atas Nama Cinta, Denny menjelaskan kesulitan menghadirkan kepekatan emosi korban diskriminasi melalui tulisan akademik atau kolom. Pada saat yang sama, ia ingin menyertakan konteks faktual yang menurutnya kurang mendapat ruang dalam bentuk puisi biasa. Puisi esai menjadi percobaannya mempertemukan kedua kebutuhan itu.
Tetapi pintu sastra tidak terbuka tanpa perdebatan. Klaim kebaruan puisi esai dan pencantuman namanya dalam 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh memicu polemik. Tesis Fitriawan Nur Indrianto di UGM menelaah pertarungan itu melalui hubungan antara modal, strategi, dan pengakuan dalam arena sastra.
Ahmad Gaus, anggota tim pemilih buku tersebut, membela kehadirannya dengan menekankan daya jangkau dan pendekatan sosial puisi esai. Dukungan dan penolakan itu memperlihatkan bahwa penerimaan atas kiprahnya tidak tunggal.
Sastra mempunyai pertanyaannya sendiri. Seberapa jauh sebuah karya menyentuh manusia? Bagaimana mutu dibicarakan ketika popularitas ikut berbicara? Denny memasuki wilayah ini dengan perangkat dan pengalaman yang membuat kehadirannya menonjol, sekaligus dipersoalkan.
Tetapi bagi Denny perjalanan intelektual memperoleh kedalaman ketika kita bersedia membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu tetap terbuka.
Telinga Untuk Mendengar Lebih Banyak
Di tengah pekerjaan politik yang menuntut perhitungan, Denny membuka ruang bagi lukisan berbantuan kecerdasan buatan.
Dalam pemberitaan peluncuran buku lukisannya pada Januari 2024, ia menjelaskan bahwa politik praktis menuntut fokus yang terukur, sedangkan lukisan, puisi, dan spiritualitas memperluas kembali wawasannya. Pengakuan ini terasa personal: sebuah profesi dapat melatih ketajaman, sekaligus mempersempit apa yang sempat kita lihat.

Salah satu ciri yang ia pilih adalah telinga berukuran besar. Ia menerangkannya sebagai simbol kebutuhan untuk mendengar lebih banyak. Ada kehangatan dalam pilihan itu. Ketika teknologi menawarkan kemampuan menghasilkan gambar dengan cepat, pesan yang ia titipkan justru mengajak manusia memperlambat kepastian tentang dirinya sendiri. Membuka telinga berarti memberi kesempatan kepada pengalaman yang belum kita pahami.
Penggunaan AI tentu tidak menutup perdebatan mengenai hak cipta, keterampilan, dan nilai seni. Namun dalam perjalanan Denny, teknologi ini menjadi pintu untuk mencoba bahasa visual yang sebelumnya tidak menjadi pusat pekerjaannya.
Membaca masa depan, pada bagian ini, berarti mendekati sebuah alat baru dan mengujinya melalui karya. Pertanyaan bergeser dari apa yang dapat dikerjakan mesin menuju apa yang ingin disampaikan manusia dengannya.
Telinga besar itu menjadi gambar yang tinggal dalam ingatan: pengetahuan mungkin bertambah ketika seseorang bersedia mendengar sesuatu yang tidak sedang ia cari.
Kehidupan Yang tak Selesai Diukur
Di balik kesibukan publik, terdapat jejak kehidupan yang lebih dekat. Sebuah profil lama mencatat buku Balada 10 Tahun Denny & Neneng, persembahan puisinya kepada istri. Kita tidak perlu memasuki ruang privat lebih jauh untuk memahami bahwa seorang penulis juga menulis bagi seseorang yang ia cintai:
Sepuluh tahun sudah kita berjumpa
Terima kasih atas kasihmu
Kadang aku merasa
Tuhan bicara padaku lewat lidahmu
Tuhan menjagaku lewat cintamu

Hidup terus berlangsung. Denny kemudian mendirikan Forum Esoterika, sebuah ruang perjumpaan dan dialog lintas iman yang berupaya membangun jembatan persaudaraan di tengah keberagaman agama. Merenungi spiritualitas di era AI, ia mendorong perjumpaan lintas iman secara sosial, tanpa mengharuskan orang mengikuti ritus yang tidak diyakininya.
Di balik kegiatan tersebut terdapat sebuah keyakinan yang indah: hari-hari besar keagamaan di Indonesia bukan semata-mata milik pemeluk agama yang merayakannya, melainkan juga bagian dari kekayaan kultural bangsa yang patut dihormati, dirawat, dan dirayakan bersama.
Pertanyaan yang muncul terasa akrab: bagaimana tetap dekat ketika keyakinan berbeda? Bagaimana menemukan makna di tengah teknologi yang terus mempercepat kehidupan?
“Spiritualitas, di tengah derasnya arus teknologi, adalah rumah tempat kita semua Kembali,” tulis Denny satu waktu di tahun 2024. “…spiritualitas tidak lagi sekadar milik agama tertentu, tetapi menjadi jembatan universal antara kebutuhan batiniah manusia dan tuntutan dunia modern,” katanya kepada media.
Dan, dalam esainya ”Membaca Indonesia Dari Daerah” pada September 2026, ia kembali menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman konkret. Ia menulis bahwa persentase nasional dapat menyembunyikan pengalaman daerah yang berbeda, sementara cerita yang sangat lokal dapat menyentuh pembaca dari tempat lain.
Di sana, perjalanan melalui survei dan sastra bertemu. Orang yang dibaca sebagai bagian dari masyarakat tetap mempunyai ingatan, rumah, dan kehilangan yang khas.
Refleksinya juga mengingatkan bahwa kecintaan terhadap gagasan perlu ditemani pengujian. Kedekatan emosional bukan alasan untuk mengabaikan ketelitian. Justru sesuatu yang kita cintai layak dipahami dengan lebih sungguh.









