Ketika Percakapan Menjadi Ancaman
Yang membuat situasi ini semakin ironis adalah kenyataan bahwa tekanan terhadap film ini tidak hanya datang dalam bentuk kritik, tetapi juga dalam upaya membatasi ruang percakapan itu sendiri. Pemutaran dibubarkan. Diskusi dicurigai. Orang-orang menjadi takut bahkan sebelum dialog dimulai. Padahal bangsa yang sehat seharusnya tidak takut pada pertanyaan. Karena pertanyaan adalah tanda bahwa nurani masih hidup.
Dan karya seni, sejak dahulu, selalu memiliki kemampuan mengganggu kenyamanan publik. Ia membuka luka yang ingin ditutup. Ia menolak kepastian yang terlalu mapan. Ia memaksa masyarakat melihat sisi dirinya yang paling tidak ingin dilihat.
“Art should comfort the disturbed and disturb the comfortable.”
— Cesar A. Cruz
Mungkin karena itu Pesta Babi terasa begitu mengganggu. Bukan karena ia penuh kebencian.
Melainkan karena ia mengusik kenyamanan moral yang selama ini membuat banyak orang bisa tidur nyenyak sambil membiarkan penderitaan berlangsung jauh dari pandangan. Dan bukankah hampir semua perubahan sosial besar selalu dimulai dari orang-orang yang dianggap terlalu berisik pada zamannya?

Jangan Cepat Berlalu
Karena itu, Pesta Babi jangan cepat berlalu.
Biarkan ia tinggal sedikit lebih lama dalam ingatan publik.
Biarkan kegelisahannya bekerja.
Biarkan ia menjadi pertanyaan yang tidak segera kita jinakkan dengan kemarahan atau sinisme.
Sebab mungkin sebuah bangsa tidak runtuh ketika ia kehilangan hutannya.
Sebuah bangsa mulai runtuh ketika ia kehilangan kemampuan moral untuk merasa terganggu oleh kehilangan itu.
“The opposite of love is not hate, it is indifference.”
— Elie Wiesel
Dan mungkin pada akhirnya, tugas terbesar karya seperti Pesta Babi bukan membuat semua orang setuju. Melainkan memastikan bahwa jeritan dari pinggir republik ini tidak sepenuhnya tenggelam di bawah suara mesin, statistik pembangunan, dan kebisingan bangsa yang terlalu sibuk membangun. ***
The Editors





