Ada yang menarik dari Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat belakangan ini. Bukan karena ia mengeluarkan paraturan baru mengenai tata kelola lingkungan tetapi karena seruannya untuk melakukan Tobat Ekologis – layaknya seorang pemuka agama yang mengajak umatnya kembali ke jalan yang benar.
Tetapi yang jauh lebih menarik adalah pemikirannya bahwa krisis lingkungan bukan semata-mata persoalan teknis atau kebijakan, melainkan krisis kesadaran manusia yang hanya dapat diatasi melalui perubahan cara pandang dan perilaku. Dengan Tobat Ekologis ia mengajak bangsa Indonesia untuk mengakui kesalahan yang sudah diperbuat terhadap alam dan kembali menyadari bahwa bumi adalah rumah bersama dan amanah yang harus dijaga, bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi.
Tindakan seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi pemakaian material yang tidak bisa didaurulang, menanam pohon dan mengontrol pola konsumsi berlebihan pada hakikatnya adalah mengembalikan manusia kepada jati dirinya. Dengan derajat tertinggi di antara semua ciptaan, manusia mengemban mandat sebagai penjaga kehidupan, sehingga perlindungan terhadap alam menjadi bagian dari perjalanan spiritual bangsa sekaligus fondasi bagi keberlanjutan generasi mendatang.
Ekoteologi
Ekoteologi mulai menjadi narasi ketika pemanasan global menjadi isu di seantero jagad. Ketika teknologi mulai disadari tidak sepenuhnya mampu memberi jawaban terhadap semua persoalan lingkungan yang semakin mengancam kehidupan, pranata lain diperlukan sebagai leeway, termasuk agama. Dan pada dasarnya, semua agama di dunia memberikan pemahaman yang sama bagaimana manusia harus memperlakukan alam dan isinya.
Inti dari ekoteologi adalah memahami hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang saling terkait, sehingga merawat bumi dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual dan moral manusia kepada Sang Pencipta. Dalam perspektif ekoteologi, penebangan hutan yang serampangan, pencemaran sungai, eksploitasi tambang yang merusak, atau kepunahan spesies bukan sekadar pelanggaran hukum lingkungan, tetapi juga bentuk ketidaksetiaan terhadap kehendak Sang Pencipta. Ekoteologi menuntut perubahan gaya hidup: mengurangi konsumsi berlebihan, menjaga keanekaragaman hayati, menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab, serta memperjuangkan keadilan bagi masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan.
Para petani yang gagal panen karena perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrim, nelayan yang kehialangan tangkapanya karena naiknya permukaan laut serta hilangnya hutan yang adalah ‘rumah’ bagi masyarakat adat adalah dosa yang butuh pertobatan.
Mendengarkan bumi
Ketika manusia kehilangan rasa kagum terhadap ciptaan, alam perlahan berubah menjadi sekadar komoditas. Gunung dipandang sebagai cadangan tambang, hutan sebagai kayu yang siap ditebang, sungai sebagai saluran limbah, dan laut sebagai tempat mengambil hasil sebanyak mungkin. Cara pandang seperti ini melahirkan hubungan yang timpang. Manusia tidak lagi hidup bersama alam, tetapi menguasainya tanpa batas.
Tobat ekologis meminta setiap orang utuk berhenti sejenak dan merenungkan: Kita terbiasa mengonsumsi lebih banyak daripada yang dibutuhkan, membuang tanpa berpikir, membeli tanpa bertanya dari mana barang itu berasal dan apa dampaknya bagi bumi. Tanpa disadari, kita ikut membangun budaya yang menguras alam.
Bumi sebenarnya terus berbicara. Ia berbicara melalui banjir yang semakin sering datang, udara yang semakin panas, musim yang sulit diprediksi, dan hilangnya berbagai spesies yang dahulu begitu akrab dengan kehidupan manusia. Persoalannya , kita sering kehilangan kemampuan mendengar.
Mendengar bumi berarti juga mendengar jeritan mereka yang paling terdampak. Petani yang gagal panen karena cuaca yang berubah, nelayan yang semakin jauh melaut untuk mendapatkan ikan, masyarakat pesisir yang kehilangan daratan, hingga anak-anak yang tumbuh dengan udara yang tercemar. Krisis lingkungan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berhubungan dengan keadilan, kemiskinan, dan martabat manusia.
Tobat Ekologis, sebagaimana tobat lainnya, harus dimulai dari mengakui kesalahan dan niat untuk berubah: Membawa botol minum sendiri, mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, menggunakan energi secara bijaksana, menanam pohon, atau mengurangi konsumsi yang berlebihan dan merestorasi apa yang telah kita rusak. Pada akhirnya, Tobat Ekologis bukanlah perjalanan menuju bumi yang sempurna, melainkan perjalanan manusia untuk kembali menjadi dirinya sendiri: pribadi yang hidup dalam rasa syukur, bertanggung jawab atas setiap pilihan, dan setia menjaga rumah bersama yang telah dipercayakan kepadanya.***
The Editor








