Piala Dunia selalu punya kisah untuk diceritakan. Mendadak jutaan orang Indonesia seperti sudah berganti kewarnegaraan.
Pawai menyambut pagelaran empat tahunan itu di sejumlah daerah di Indonesia memberi warna tersendiri pada negeri ribuan pulau ini. Mengenakan jersey Argentina, Brasil, Belanda Jepang, Korea bahkan Afrika Selatan, warga berkeliling kampung dan kota mengekspresikan dirinya – habis-habisan. Mereka membawa bendera negara yang dibelanya: anak-anak, pria dan wanita. Ibu-ibu tak mau ketinggalan. Naik di atas mobil bak terbuka, meluapkan kegembiraan yang sulit untuk dijelaskan.
Begitu Piala Dunia dimulai, Indonesia berubah menjadi negeri yang cukup membingungkan. Warung kopi penuh sampai dini hari. Di satu meja orang berdebat tentang Brasil. Meja sebelah yakin Inggris akhirnya menemukan takdirnya. Di pojok ruangan muncul pendukung Jepang. Tak jauh dari sana, ada yang membela Maroko dengan penuh semangat, seolah masa kecilnya dihabiskan di Casablanca.
Keluar dari warung, suasananya tak jauh berbeda. Gang-gang kecil dipenuhi bendera berbagai negara. Anak-anak mengenakan jersey bertuliskan nama-nama pemain asing yang bahkan sulit untuk dieja. Dan untuk urusan yang begini, Indonesia Timur, entah mengapa, seperti rela melepas kewarganegaraannya andai mereka dilarang aparat untuk membela Belanda – yang nota bene bekas penjajahnya.
Suatu malam, seorang teman saya pulang dengan wajah murung. Portugal gagal menang. Ia mengaduk kopi tanpa semangat. Sesekali menghela napas panjang, seolah harga sahamnya baru saja ambruk. Tak henti ia menyalahkan wasit, pelatih, bahkan rumput stadion yang katanya terlalu licin.
Teman saya ini lahir dan besar di Kampung Pulo, Kelurahan Cilangkap, Depok. Dan jangankan tahu di mana letak Portugal, seperti apa bentuk paspor belum pernah ia lihat. Tetapi malam itu ia merasa kehilangan sesuatu yang sangat pribadi.
Piala Dunia memang memiliki kekuatan yang aneh. Ia sanggup membuat jutaan orang Indonesia merasa menjadi warga negara lain selama sembilan puluh menit. Yang paling menarik, tidak ada satu pun pemain yang sedang berlari di lapangan berasal dari Indonesia. Tetapi sorak-sorai terdengar seolah Garuda sedang bermain di final.

Bangsa yang Belajar dari Tribun
Barangkali memang begitu adanya manusia. Kita selalu ingin menjadi bagian dari sebuah kisah besar. Ketika kisah itu belum memuat nama kita, kita memilih tokoh yang ingin kita dukung, lalu ikut menangis dan tertawa bersamanya. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Kita tidak hadir sebagai peserta. Tetapi kita hadir sebagai bangsa yang ikut merasakan. Di sinilah Piala Dunia menjadi lebih dari sekadar sepak bola. Ia adalah cermin yang diam-diam memperlihatkan siapa kita.
Tetapi ada saja orang yang mencibir, “Mengapa sibuk mendukung negara lain?” Pertanyaan itu masuk akal. Namun ada juga jawaban yang juga rasional. Tidak ada bangsa yang langsung menjadi juara. Semua bermula dari satu cerita. Jepang pernah lama menjadi penonton. Korea Selatan bertahun-tahun belajar dari kegagalan. Maroko membangun fondasi selama puluhan tahun sebelum akhirnya membuat dunia menoleh. Semua pernah belajar mengagumi sebelum akhirnya ditiru.
Mungkin Indonesia juga sedang menjalani fase itu. Fase ketika kita masih belajar dari tribun.Yang sesungguhnya menarik dari Piala Dunia bukan siapa yang akhirnya mengangkat trofi. Itu urusan buku statistik. Yang lebih menarik adalah kenyataan bahwa negeri ini tidak pernah kekurangan cinta kepada sepak bola.
Lihat saja antusiasmenya. Begadang, rela mengantuk ke kantor, berdebat sampai persahabatan nyaris putus hanya karena berbeda jagoan. Energinya luar biasa. Sayangnya, energi sebesar itu sering berhenti menjadi euforia. Kita lupa membangun sistem. Lupa membangun akademi. Lebih cepat membeli jersey daripada memperbaiki lapangan. Lebih puas memakai tenaga naturalisasi daripada mempercayai kemampuan putra daerah yang memperjuangkan mimpinya sepanjang waktu.
Kita lebih hafal formasi tim nasional negara lain daripada tahu kompetisi usia muda di kota sendiri. Lupa bahwa prestasi lahir dari pembinaan yang berlangsung puluhan tahun, bukan dari sembilan puluh menit pertandingan. Lupa bahwa mimpi sebesar Piala Dunia dibangun oleh puluhan tahun kesabaran.

Latihan Bersorak untuk Diri Sendiri
Hingga hari ini, pemerintah kita baru sebatas berbangga karena melihat bahwa Piala Dunia mampu menggerakan perekonomian di daerah-daerah. Kerumunan orang, nonton bareng dan keramaian lain merayakan Piala Dunia membuat penjualan UMKM meningkat. Ini tentu jauh dari prestasi timnas kita dan bahkan tidak ada hubungannya. Tetapi setidaknya ada yang bisa dibanggakan.
Betapapun, kita pantas untuk tetap optimistis. Sebab di balik semua kegaduhan itu, ada sesuatu yang sangat berharga. Bangsa ini masih memiliki kemampuan untuk berharap. Di tengah begitu banyak perbedaan, kita masih bisa duduk semeja, tertawa bersama, lalu serempak berteriak ketika bola membentur mistar gawang. Buru-buru orang pintar menyimpulkan Piala Dunia menciptakan kohesi sosial. Padahal, mungkin itu gejala sesaat yang segera akan pergi begitu Piala Dunia berakhir. Dan kita tetap saja bangga dan bersorak untuk kemenangan dan kehebatan bangsa lain.
Tetapi kemampuan untuk tetap berharap seperti itu tidak boleh diremehkan. Semua peradaban besar selalu dimulai oleh orang-orang yang percaya pada sesuatu yang belum ada. Dan bila suatu hari nanti Indonesia benar-benar berdiri di panggung Piala Dunia, mungkin semua bermula dari jutaan orang yang selama bertahun-tahun rela begadang, bersorak untuk kemenangan negara lain, sambil diam-diam memelihara keyakinan bahwa suatu hari lagu Indonesia Raya juga layak berkumandang di panggung terbesar sepak bola dunia.
Jika hingga hari ini kita masih terus bersorak untuk kemenangan negara lain, mungkin saja kita sedang berlatih untuk bersorak menyambut mimpi kita sendiri.***

The Editor








