Membaca (Kembali) Agama

Esensi Agama Cuma Tiga: Hubungan Dengan Tuhan, Hubungan Dengan Sesama Dan Hubungan Dengan Alam – Pontjo Sutowo

Membaca Indonesia hari ini –  dan bertahun-tahun lalu –  adalah membaca sebuah paradox. Rumah ibadah berdiri dari pusat kota sampai pelosok desa. Doa membuka rapat, mengiringi pelantikan, dan menutup berbagai pertemuan resmi. Hari-hari besar keagamaan dirayakan secara luas. Bahasa ketuhanan hadir dalam pidato politik, ruang pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Namun, beriringan dengan semua itu  korupsi terus berulang bahkan menggurita, ketimpangan sosial terus melebar, kekerasan mudah menemukan pembenaran, dan alam dirusak oleh kaum beragama.

Agama tentu tidak dapat dipersalahkan atas seluruh keburukan manusia. Akan tetapi agama juga tidak boleh dibebaskan dari pertanyaan tentang daya ubahnya. Jika agama benar-benar menuntun kehidupan, seharusnya kehadirannya dapat dibaca bukan hanya dari banyaknya ritual, melainkan dari watak manusia dan mutu kehidupan bersama yang dihasilkannya. Agama, karena itu,  perlu dikembalikan kepada tiga esensinya: hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam. Ketiganya merupakan satu kesatuan relasional yang utuh.  

Ketuhanan Dalam Setiap Keputusan

Hubungan manusia dengan Tuhan  yang transenden merupakan sumber pertama kehidupan beragama. Di hadapan Tuhan, manusia menyadari bahwa dirinya bukan pusat semesta. Ia bukan pemilik mutlak atas kekuasaan, kekayaan, pengetahuan, maupun kehidupan. Semua yang dimilikinya bersifat sementara dan mengandung pertanggungjawaban.

Kesadaran ketuhanan semestinya melahirkan kesadaran moral, dalam bahasa Immanuel Kant: apakah manusia semakin jujur? Semakin menahan keserakahan, menolak mengambil sesuatu yang bukan haknya? Hubungan dengan Tuhan tidak hanya hanya berhenti pada mengakui keberadaan Tuhan tetapi menerima konsekwensi dari keberadaannya.

Refleksi theologisnya: Jika Tuhan diyakini Maha Melihat, tidak ada korupsi yang benar-benar tersembunyi. Jika Tuhan Maha Adil, merampas hak rakyat merupakan perlawanan terhadap keadilan-Nya. Jika Tuhan Maha Pengasih, kesalehan yang tidak melahirkan kasih kehilangan makna religiusnya.

Persoalannya, Tuhan sering dihadirkan di ruang ritual, tetapi ditinggalkan di ruang keputusan. Nama-Nya disebut sebelum rapat dimulai, tetapi nilai-Nya tidak selalu menyertai keputusan yang diambil. Orang dapat berdoa sebelum menandatangani anggaran, lalu tetap menyalahgunakan anggaran tersebut. Seseorang dapat terlihat taat dalam kehidupan pribadi, tetapi menjadi rakus ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Religiusitas Hubungan Antar Manusia

Agama memperoleh wujud sosialnya ketika manusia berjumpa dengan sesamanya. Dengan pemahaman bahwa agama tidak pertama-tama dipandang sebagai  kumpulan ritual, doktrin atau identias melainkan pranata  yang mengatur kehidupan manusia dalam tiga relasi funadamental: hubugan dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan alam, maka agama tidak seharusnya menempatkan sesama manusia sekadar objek belas kasihan, tenaga produksi, angka statistik, konsumen, atau suara dalam pemilihan umum. Setiap manusia   membawa martabat yang tidak boleh dikurangi oleh kemiskinan, agama, suku, jenis kelamin, kedudukan, ataupun pilihan politik.

Karena itu, mencintai Tuhan tidak dapat dipisahkan dari menghormati manusia. Membela mereka yang lemah bukan kegiatan tambahan setelah beragama. Itulah salah satu bentuk paling nyata dari keberagamaan. Memberi jalan bagi pendidikan, melindungi pekerja, menjaga hak masyarakat, menolong orang miskin, dan memperlakukan kelompok berbeda secara adil adalah pernyataan teologis dalam bentuk sosial.

Ironinya, orang dapat segera marah ketika simbol agamanya dianggap terganggu, tetapi tidak selalu gelisah ketika tetangganya kelaparan. Perbedaan keyakinan mudah menimbulkan kecurigaan, sedangkan ketidakadilan yang berlangsung lama diterima sebagai keadaan biasa. Agama menjadi sesuatu yang dibela dengan keras, tetapi belum tentu dijalankan dengan benar. 

Bahkan, dalam perspektif kehidupan berbangsa, Pontjo Sutowo yang terus gelisah dengan kecenderungan  disorientasi dalam hidup bernegara membuka diskursus untuk memahami Pancasila sebagai agama kewargaan atau civic religion: suatu perjanjian moral yang mempertemukan keyakinan berbeda dalam tanggung jawab kebangsaan yang sama.

Serupa dengan agama-agama lainya, Pancasila sebagai civic religion juga membutuhkan ‘rumah ibadahnya’  yakni sekolah yang mengajarkan kejujuran, birokrasi yang melayani, parlemen yang mengutamakan kepentingan rakyat, pengadilan yang tidak dapat dibeli, perusahaan yang bertanggung jawab, dan masyarakat yang melindungi kelompok paling lemah.

“Tanpa rumah-rumah moral semacam itu, Pancasila tinggal sebagai hafalan. Ketuhanan berhenti sebagai sila pertama dan tidak mengalir menuju kemanusiaan, persatuan, musyawarah, serta keadilan sosial. Padahal kesalehan berbangsa justru terjadi ketika keyakinan kepada Tuhan diterjemahkan menjadi penghormatan kepada seluruh umat manusia,” kata Pontjo.

Alam Bukan Barang Rampasan

Hubungan manusia dengan alam merupakan esensi agama yang paling sering dilupakan. Alam diperlakukan seolah-olah benda mati yang tersedia untuk dikuasai. Hutan hanya dihitung sebagai lumbung kayu, tanah sebagai komoditas, sungai sebagai saluran pembuangan, dan laut sebagai ruang eksploitasi. Nilai alam baru diakui setelah diterjemahkan menjadi keuntungan ekonomi.

Padahal paham keagamaan menempatkan manusia bukan pemilik mutlak bumi. Ia datang ketika alam telah ada dan akan pergi ketika kehidupan masih harus diteruskan. Dalam pengertian teologis, manusia adalah khalifah sekaligus pemegang amanah. Kedudukan itu bukan izin untuk menaklukkan alam tanpa batas, melainkan tanggung jawab untuk merawat keseimbangan ciptaan.

Kerusakan lingkungan, karena itu, adalah krisis moral dan spiritual. Ketika sungai diracuni, hutan dihancurkan, udara dikotori, dan masyarakat kehilangan ruang hidup, yang dilukai bukan hanya ekosistem. Hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesamanya, dan dengan generasi yang belum lahir ikut dirusak.

Atas nama agama kita menemukan kosa kata baru: kesalehan ekologis. Tetapi ia tidak cukup diwujudkan melalui seremoni menanam pohon. Ia membutuhkan perubahan cara pandang: dari menguasai menjadi merawat, dari menghabiskan menjadi memulihkan, dan dari keuntungan sesaat menuju keberlanjutan kehidupan.  

Pada akhirnya, membaca (Kembali)  agama berarti membaca kehidupan yang dihasilkannya. Ukuran terdalam keberagamaan bukan hanya seberapa sering nama Tuhan disebut, tetapi seberapa nyata nilai ketuhanan hadir dalam keputusan manusia.

Agama kehilangan esensinya bukan ketika rumah ibadah berkurang, melainkan ketika manusia memuliakan Tuhan sambil mengabaikan sesama dan menghancurkan alam. Sebab jalan menuju Tuhan tidak pernah menjauh dari bumi. Ia melewati nurani manusia, penderitaan mereka yang terpinggirkan, dan kehidupan yang berhasil dipulihkan. ***

The Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *