Rentang Peduli
Pontjo Sutowo—di tengah fenomena politik transaksional sekarang—adalah sebuah antitesa. Ia berjalan berlawanan ketika kebanyakan orang berebut jabatan politik untuk mendapatkan keuntungan ekonomi—politisi pengusaha, pengusaha politisi. Sebaliknya, ia rela mengorbankan apa yang sudah dimilikinya sebagai pengusaha untuk meluruskan tugas mulia politik sebagai kerja mewujudkan cita-cita bersama sebagai sebuah bangsa—merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.
“Banyak kemuliaan yang sudah saya dan keluarga dapatkan dalam hidup dan tak elok rasanya tidak berbuat apa-apa di tengah kenyataan bahwa perjalanan bangsa masih jauh dari cita-citanya sementara taraf hidup rakyat masih cukup memprihatinkan,” katanya. Tetapi berbuat apa?
Adalah Pontjo Sutowo yang berada di balik pembentukan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti dan Aliansi Kebangsaan yang konsisten dan persisten menyuarakan semangat kebangsaan dalam rangka menjaga cita-cita kemerdekaan sebagaimana dirumuskan para founding fathers yakni merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Melalui dua wahana ini ia menghimpun para sahabat, cendekiawan dan profesional untuk mencermati dan menyuarakan berbagai fenomena, trend dan perkembangan yang justru menjauhkan bangsa ini dari cita- cita bersamanya.
Khusus untuk Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, lembaga yang disingkat YSNB itu lebih berdarmabhakti pada masalah budaya bangsa yang membentuk jati diri bangsa. Fokusnya adalah kearifan lokal setiap suku bangsa di Indonesia yang harus diletakan dalam perspektif kekinian untuk membentuk budaya Indonesia. Ia adalah sebuah gerakan membangun peradaban bangsa dalam konstelasi budaya-budaya global.
Sementara itu, Aliansi Kebangsaan yang didirikannya pada bulan Oktober 2010 merupakan jejaring kaum intelektual lintas disiplin, lintas kultural dan lintas keyakinan yang dipersatukan oleh kepedulian yang sama untuk mengembangkan kebangsaan Indonesia yang berperadaban dalam rangka mewujudkan tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yakni menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Melalui berbagai diskusi rutin, seminar dan konvensi nasional Aliansi ini mencermati isu-isu di ranah mental-kultural, ranah institusional-politikal dan ranah material-teknologikal dan melahirkan rumusan masalah dan membuat rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijakan publik.
“Aliansi Kebangsaan tidak mencari kekuasaan bagi dirinya sendiri dan tidak akan tumbuh menjadi sebuah partai politik. Setiap cabang Aliansi Kebangsaan akan memantau, mengkritisi dan bila mungkin mengoreksi penyimpangan semangat kebangsaan yang terdapat dalam kebijakan serta keputusan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga Negara,” catat Pontjo.
Dan adalah Pontjo Sutowo juga yang membuat Forum Komunikasi Putra- Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI) kembali bersinar, setelah berada dalam kondisi antara hidup dan mati di bawah Ketua Umum sebelumnya Bambang Trihatmodjo.
Dalam semangat kebangsaan yang sama Pontjo meletakan pengembangan FKPPI dalam program Bela Negara dengan dua koordinat pokok yakni koordinat keberagaman/ kebhinekaan sebagai kondisi obyektif bangsa dan koordinat ke dua yakni cita-cita kemerdekaan yakni merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
“Harus selalu ada koneksitas antara koordinat pertama dan kedua dan hanya dalam koridor berpikir seperti itu bangsa ini akan selamat dalam mewujudkan cita-citanya. Dan itu menjadi sikap dasar FKPPI sebagai lembaga maupun sikap dasar kader-kader FKPPI,” tegasnya.
Pontjo Sutowo, Pengusaha Yang Terpanggil…, begitu bunyi judul memoir yang ditulis Ansel da Lopez dari Aliansi Kebangsaan. Ya, dia memang terpanggil untuk peduli pada nasib bangsanya yang berayun semakin jauh dari cita-citanya sendiri.







