Home / Pinnacles / Lentera di Kolaka Utara

Lentera di Kolaka Utara

Di pagi yang basah di Kolaka Utara, langkah-langkah kecil para siswa dari desa pesisir dan pegunungan bergerak menuju sekolah dengan harapan yang tak pernah benar-benar padam. Harapan itu sederhana: kehidupan yang lebih baik. Namun, bagi banyak keluarga pra-sejahtera di Ring 1, Ring 2, dan Ring 3 wilayah operasi tambang, harapan itu sering terhenti bukan karena kurangnya kemauan, tetapi karena keterbatasan. Pendidikan tinggi terasa jauh—secara jarak, biaya, dan kesempatan.

Lalu, Sesuatu Berubah

PT Riota Jaya Lestari memperkenalkan LENTERA KOLUT—Lestari dan Tangguh untuk Rakyat Kolaka Utara, sebuah program beasiswa yang bukan hanya menyokong biaya kuliah, tetapi merancang ulang jalur masa depan anak-anak daerah. Dari 2023 hingga 2025, sebanyak 90 mahasiswa telah masuk dalam lingkaran cahaya itu—dan hidup mereka tak lagi sama.

Membaca Risiko, Menemukan Harapan

PT Riota Jaya Lestari memulainya dengan bertanya: apa risiko terbesar yang mengancam masa depan daerah ini?

Jawaban yang muncul jelas dan tegas—pendidikan. Minimnya akses pendidikan tinggi, ketidakstabilan ekonomi keluarga, dan terbatasnya transportasi membuat perguruan tinggi seperti puncak yang jauh di ujung bukit.

Dengan pemetaan sosial yang serius—kunjungan rumah, wawancara, konsultasi desa—perusahaan menyadari: investasi yang paling relevan dan berkelanjutan bukanlah bangunan fisik, tetapi manusia.

Dari sanalah LENTERA KOLUT dilahirkan.

Tumbuh Bersama Masyarakat

LENTERA KOLUT bukan sekadar program CSR; ia adalah strategi jangka panjang yang menyelaraskan kepentingan perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Program ini mendukung SDG 4, 8, dan 17, serta sejalan dengan kebijakan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Kementerian ESDM.

Tetapi yang membuatnya berbeda adalah cara ia dijalankan.

Seleksi dilakukan transparan, dengan verifikasi lapangan. Sebanyak 92,5% penerima berasal dari keluarga pra-sejahtera. Setiap mahasiswa menerima rata-rata Rp 3.500.000 per semester, cukup untuk memastikan mereka dapat belajar dengan tenang tanpa harus mengorbankan kebutuhan dasar keluarga.

Namun, LENTERA KOLUT melangkah lebih jauh.

Ia membangun karakter. Mengasah kepedulian sosial. Mengirim mahasiswa ke kegiatan sosial-lingkungan, mulai dari rehabilitasi mangrove hingga edukasi literasi digital. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat—mereka tumbuh menjadi agen perubahan.

Dampak yang Dapat Disentuh dan Diverifikasi

Program ini bukan klaim di atas kertas. Ia punya jejak di lapangan—foto, video, testimoni, hasil akademik, FGD multipihak, dokumentasi monitoring digital dalam satu ekosistem yang tertata.

Hasilnya?

  • IKM 75 – kategori Baik, menunjukkan penerima puas dan merasakan manfaat nyata.
  • 3,6% lulus lebih cepat, sebuah pencapaian penting untuk daerah dengan hambatan geografis.
  • 5% mengikuti magang perusahaan, membuka jalan ke dunia kerja formal.
  • Orang tua mulai merasakan multiplier effect ekonomi—dari biaya hidup mahasiswa di kota, aktivitas transportasi, hingga dorongan konsumsi lokal.
  • Komunitas merasakan efek sosial berantai: meningkatnya karakter, empati, dan wawasan generasi muda.

Di banyak rumah, beasiswa ini bukan hanya bantuan kuliah. Ia menjadi simbol bahwa pendidikan bukan lagi mimpi yang mustahil.

Kisah yang Terus Bergerak

Narasi LENTERA KOLUT bukan kisah kemenangan sekali waktu. Ia adalah perjalanan panjang, sebuah cahaya yang menuntun dari tahun ke tahun. Dengan monitoring digital yang transparan dan komitmen perusahaan yang konsisten, program ini tidak hanya menjawab risiko material—ia justru menjadi kekuatan material baru bagi masa depan Kolaka Utara.

Dari ruang-ruang belajar kecil, dari anak-anak yang menulis tugas kuliah di meja kayu yang disinari lampu minyak, hingga ke auditorium tempat mereka kelak menerima gelar sarjana—cahaya itu terus menjalar.

Satu Cahaya Menyalakan Banyak Cahaya

Dan malam itu, Rabu 25 November, di sebuah acara yang diselenggarakan Sekolah Tanggungjawab Sosial La Tofi, kisah Lentera Kolaka Kolaka Utara mendapat tepuk tangan meriah. Mewakili Amirullah Nur Saenong -Presiden Direktur – Misdar, Direktur Operasional dan Pengembangan Program, membuatnya jelas bahwa LENTERA KOLUT bukan sekadar program. Ia adalah pernyataan sikap: bahwa perusahaan tak hanya ada untuk mengambil, tetapi memberi. Bahwa keberlanjutan sosial tak lahir dari retorika, tetapi dari keputusan nyata untuk berada bersama masyarakat—melihat mereka, mendengar mereka, tumbuh bersama mereka.

Dan ketika para penerima beasiswa itu berdiri sebagai sarjana, guru, tenaga kesehatan, wirausahawan, atau profesional masa depan, satu hal menjadi jelas:

Cahaya dari Utara akan terus menyala, selama ada tangan-tangan yang bersedia menjaganya.

Itulah LENTERA KOLUT.
Dan ini baru permulaan.

Albert Rebong