Pagi itu, halaman SDN Tanjungrejo 2 di Kecamatan Sukun, Kota Malang Jawa Timur dipenuhi wajah-wajah penuh harapan. Anak-anak menyambut tamu-tamu penting dengan yel-yel lantang, sementara guru-guru berdiri tegap, menyembunyikan rasa lelah yang sudah lama mereka pikul. Mereka menunggu sesuatu yang tak biasa: sebuah gerakan baru — gerakan yang bisa mengubah masa depan anak-anak mereka.
Sebuah Pagi yang Mengubah Banyak Hal
Di tengah hiruk pikuk Kelurahan Tanjungrejo yang padat, pendidikan kerap berjalan dengan tantangan yang tak terlihat. Di rumah, banyak orangtua menyerah—entah karena tekanan ekonomi, waktu yang habis, atau perubahan perilaku anak yang dipengaruhi dunia digital. Di sekolah, guru-guru pun berjuang sendirian menghadapi kelas yang semakin sulit dikendalikan. Tapi pada Agustus 2023 semua berubah.
Sebuah ruang kelas sederhana menjadi saksi lahirnya kolaborasi besar: guru, orangtua, pemerintah kota, dan dunia usaha berkumpul untuk satu tujuan—menyelamatkan karakter anak-anak.
“Ini Tugas Kita Bersama,” kata Sutiaji, Walikota Malang kala itu yang datang meresmikan program Pendidikan untuk Guru dan Seminar Parenting dalam Membentuk Karakter Anak Bangsa – program yang diinisiasi PT Pertamina Retail Region V berbasis Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.
Di tengah ratusan mata yang memperhatikannya, Drs. H. Sutiaji berdiri menyampaikan pesan yang menusuk:
“Kita tidak boleh membiarkan guru berjalan sendirian. Orangtua tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri. Pendidikan karakter adalah tanggung jawab seluruh kota.”
Seketika suasana menjadi hening. Banyak guru menundukkan kepala, seperti menemukan pembelaan yang selama ini mereka cari.
Sutiaji bukan hanya datang untuk meresmikan program; ia datang untuk menjadi suara bagi para pendidik yang selama ini bekerja dalam kesenyapan.
Dari Korporasi untuk Masa Depan Anak-anak Kecil
Bersama Sutiaji hadir Hariz Musmar, Ambassador Region V Pertamina Retail — sosok yang menjadi jembatan antara dunia korporasi dan dunia pendidikan.
Dalam sambutannya, ia berkata dengan nada yang tidak dibuat-buat:
“Kami datang bukan membawa janji, tetapi komitmen. Anak-anak ini adalah masa depan, dan masa depan itu harus kita jaga bersama.”
Kata-kata itu seperti menyalakan kembali semangat di mata para guru. Untuk pertama kalinya, mereka merasa tidak sendiri. Ada perusahaan besar yang berdiri bersama mereka, bukan di balik meja, tapi di tengah ruang kelas yang mereka cintai.









